PANDANGAN MANUSIA MENURUT PARA AHLI

Pengetahuan kita tentang model manusia yang berkenbang seutuhnya sampai saat ini masih didominasi oleh wawasan teoritis yang lahir dari ilmu pengetahuan barat. Kita mungkin sudah akrab dengan istilah-istilah seperti “manusia yang tidak diperbudak oleh dorongan instingtifnya” dari Sigmund Freud, “manusia yang mengaktualisasi dirinya” dari Abraham Maslow, ”dan manusia yang terindividuasi” dari Carl Jung. Pengaruh wawasan teoritis barat itu didukung oleh perangkat metodologi ilmu pengetahuan modrn.

Selain itu para tokoh juga berpendapat mengenai manusia, seperti :

  • Shidartha Gautama, pendiri agama budha. Ia berpendapat bahwa setiap manusia adalah pencipta atas kesehatan atau penyakit yang dideritanya sendiri.
  • Stephen Covey, guru manajemen terkemuka. Ia berpendapat bahwa kita bukan manusia yang berada dlam perjalanan spiriyual, kita makhlik spiritual yang berada dalam perjalanan manusia.
  • Albert Einstein, pemenang nobel fisika. Ia bependapat bahwa kita tidak dapat berputus asa akan kemanusiaan, karma kita sendiri adalah manusia.
  • Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet. Ia berpendapat bahwa kita bisa hidup tanpa agama dan meditasi, tapi kita takan bertahan hidup tanpa kasih saying manusia.

Dari sekian nama yang memberi pendapat tentang manusia, tredapat seorang ahli dari indonesia yang bernama Ki Ageng Suryomentaram salah satu jenius local dari jawa yang terkenal dengan ajaran-ajarannya tentang “ilmu kawaruh jiwa”. Ki Ageng Suryomentaram tumbuh dalam ruang waktu kebudayaan jawa (pedalaman) yang menjunjung tinggi asketisme hidup lewat laku mawas diri. Pemikirannya lahir dari laku spiritual dengan disiplin tinggi sehingga tidak berlebihan ketika hasilnya dianggap sebagai saripati realitas itu sendiri.

Penulusuran Ki Ageng untuk memperoleh model manusia yang mampu bertumbuh bertumpu pada prinsip transformasi. Artinya, untuk sampai pada kondosi kesehatan mental hakiki, seseorang harus mampu melakukan transformasi diri, dari manusia dengan kualitas “juru catat” kemudian menjadi “kramadangsa”, hingga mencapai model “manusia tanpa cirri”.

Rasa Kramadangsa.

Setiap manusia pada awalnya bertindak sebagai juru catat yang mencatat segala hal yang dialami. Catatan-catatan itu berfunsi sebagai bank data yang akan muncul kembali ketika seseorang merespons situasi tertentu. Catatan yang sering diingat akan tumbuh subur, sedangkan catatan yang tidak sering diingat akan mati. Ki Ageng mengidentifikasi ada sebelas catatan yang mengisi ruang rasa manusia, diantaranya : harta benda, kehormatan, kekuasaan, keluarga, golongan, kebangsaan, jenis, kepandaian, kebatinaan, ilmu pengetahuan, dan rasa hidup.

Catatan-catatan itulah yang kemudian menghantarkan manusia mengalami rasa keramadangsa, yaitu tahap kesadaran yang menyatukan diri dengan catatan-catatan tersebut. Rasa keramadangsa berkembang setelah manusia dewasa, ketika dia sudah mampu memikirkan catatan-catatannya.

Manusia tanpa cirri.

Seseorang yang mampu meloloskan diri dari jebakan rasa keramadangsa akan tumbuh menjadi “manusia tanpa cirri”. Ki Ageng menggambarkan manusia tanpa cirri sebagai sosok yang mampu menetapkan setiap persoalan dalam tempatnya melalui laku mawas diri. Mawas diri adalah sikap tidak merasa benar sendiri.

Menjadi manusia tanpa ciri itu juga berarti mengembangkan catatan-catatan yang berdasrkan laku rasa, bukan berdasarkan laku pikir semata.

Inspiration from news paper

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s